Syiar Islam : EMPAT PENDEKATAN SAINS ISLAM

image

  Jakarta, LINGGA POS – Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSIST) Dr Syamsuddin Arief dalam seri kuliah ‘Islamic Science’ yang digelar di Kampus Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Selasa (12/1) dalam pengantarnya menjelaskan secara singkat pengertian Islamic Science. Menurut dia, setidaknya ada empat pendekatan terhadap Sains Islam tersebut, yakni, pertama, pendekatan ‘apolegetis’ seperti yang ditemukan dalam buku-buku karya Maurice Bucaille (asal Perancis yang kemudian menjadi mualaf) dan Harun Yahya, dimana teori-teori sains atau penemuan-penemuan ilmiah dicocokkan dengan ayat Al Quran atau Hadist yang diyakini mengantisipasinya. Kedua, pendekatan ‘filosofis’, yakni pembahasan sains Islam difokuskan pada landasan epistemologis, kerangka berfikir saintis (worldview) yang memang berbeda dengan paradigma sains modern. Pendekatan ini dilakukan oleh Hossein Nash, Naquib al-Attas dan Alparslan Acikgenc, dalam buku-bukunya.   Lalu-dalam seri kuliah yang diikuti peserta dari Bandung, Purwokerto, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya tersebut- Syamsuddin melanjutkan, pendekatan ketiga adalah, pendekatan ‘historis’ yang menitikberatkan pengungkapan fakta dan data tertulis. Inilah pendekatan yang dilakukan oleh sarjana Barat seperti David A. King, George Saliba dan Paul Lettinc-untuk menyebut beberapa nama saja- dimana pendekatan ini memerlukan ketekunan dan keseriusan karena ya dikaji adalah karya-karya saintis Muslim dalam berbagai bidang yang masih berbentuk manuskrip berbahasa Arab ‘gundul’ (tanpa tanda baca). Maka hasil kajian mereka berisi banyak simbol, diagram atau grafik-grafik atau angka seperti lazimnya buku-buku sains.   Dan, yang keempat adalah pendekatan ‘praktis’, yakni pendekatan yang tidak cukup hanya diwacanakan, tetapi harus diwujudkan dalam praktik hidup keseharian. Sains Islam itu menganjurkan kita hidup sesuai dengan nilai-nilai Islam. Kalau berupa ilmu alam atau natural science, maka bagaimana kita mengembangkan sains yang tidak merusak alam, ramah lingkungan, menghormati dan memelihara keanekaragaman hayati. Ini pendekatan yang dikedepankan oleh Adi Setia dan Nadia Lawton, penganjur permacultue dari Australia. (ca/hc)

Kategori: LINGGA
Topik populer pada artikel ini:

Berikan Komentar

Kirim Komentar

Berita Terkini

Bookmark dan Bagikan

Lingga Pos © 2018. Hak Cipta dilindungi undang-undang. Powered by Web Design Batam.