CHINA & KORSEL MINAT BANGUN SMELTER DI LINGGA, KEPRI

 ​

Dabo, LINGGA POS – Delegasi usahawan alias investor dari Korea Selatan (Korsel) berminat membangun smelter dengan investasi senilai Rp5 triliun hingga Rp15 triliun di wilayah Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menyusul sejumlah perusahaan tambang Asia menyakini kandungan bauksit di bumi Bunda Tanah Melayu, julukan Lingga, sebagai terbesar di antara 7 kabupaten/kota di Kepri. Perusahaan terbesar Korsel diwakili CEO Kim in Pil sebuah perusahaan tambang dan konstruksi Sungpoong Construction Co. Ltd bersama perusahan kontruksi pembangkit listrik dan mesin Chemotech Co. Ltd, pada Selasa (16/5) menemui Bupati Lingga Alias Wello di Jakarta. Sebelumnya mereka sudah melakukan survey di sejumlah lokasi tambang di Lingga dan menyatakan keseriusan mereka untuk membangun fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina atau smelter. DENGAN TIGA SYARAT. Alias mengatakan pihaknya pada prinsipnya menyambut baik permintaan para investor dari negeri ginseng tersebut, namun bagaimanapun semua itu harus melalui tahapan danatau perizinan sesuai ketentuan dan peraturan serta mekanisme dari pemerintah pusat. Sebagai pimpinan daerah dimana smelter akan dibangun, pihaknya setidaknya meminta perusahaan terkait dapat memenuhi tiga syarat yang diajukan, “Ada tiga syarat yang harus dipenuhi para investor, pertama harus bermanfaat langsung bagi warga tempatan, kedua, memberikan kontribusi dan komitmen bersama bagi peningkata PAD, dan ketiga, harus menjaga lingkungan hidup,” kata Alias. 600 JUTA METRIK TON BAUKSIT. Tidak tanggung-tanggung, konon dari survey yang dilakukan oleh perusahaan alumina dari China yakni Chalieco dan Dezheng Resources — dengan menggandeng sebuah perusahaan lokal PT Berkah Pulau Bintan — menyebut bahwa kandungan bauksit berdasarkan citra satelit dan laporan eksplorasi Joint Ore Reserves Commitee (JORK), sebesar 600 juta metrik ton di Lingga yang potensial digarap dalam waktu puluhan tahun. “Rencananya, smelter akan di bangun di Sebayur, Pulau Singkep. Perusahaan China itu sudah mengajukan izin usaha pengolahan dan pemurnian mineral atau IUP Operasi Produksi (OP) ke Kementerian ESDM,” ungkap Dirut PT Berkah Pulau Bintan, B. Susanto. Untuk pembangunan smelter itu, lanjut dia hanya membutuhkan lahan seluas 250 hektare. (ras/mk/kp)

Kategori: LINGGA
Topik populer pada artikel ini: