Khazanah Melayu: Menggali Jati diri dan Sejarah Bangsa Melayu

Mulai hari ini, setiap hari Kamis Lingga Pos menurunkan artikel Khazanah Melayu yang diambil dari berbagai sumber dalam rangka ikut melestarikan budaya, adat resam Melayu seperti motto yang diucapkan Laksamana Hang Tuah “Tak Melayu Hilang di Bumi”….

JATI DIRI MELAYU

Pengertian orang tentang nama “Melayu” menimbulkan beberapa tanggapan, dan sering dicampurbaurkan. Hal ini sering sekali dibuai oleh ocehan yang tidak lebih dari sebuah omong kosong dibalik kisah sejarah yang sebenarnya.

Kekhawatiran terhadap penyimpangan tersebut beberapa pemuka adat Melayu, antropolog, sejarawan bergerak untuk mempublikasikan cerita sejarah Melayu tentang nenek moyang yang mendiami wilayah Thailand Selatan, Singapura, Brunai, Malaysia, Kalimantan Barat, Aceh Timur (Temiang), Riau, Kepulauan Riau, Jambi, pesisir Palembang dan pesisir timur Sumatera Utara. Salah satunya Sejarawan dan juga Dosen Luar Biasa Sejarah Melayu dan Sejarah Sumatera Timur di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (Unsu), Tuanku Luckman Sinar Basarshah,II,SH, ALHAJ tentang “Jatidiri Melayu” menyebutkan salah satu nama “Melayu” berasal dari kerajaan Melayu Purba. Sesuai yang tertulis pada Kronik Dinasti Tang di Cina. Sudah ada tertulis nama kerajaan di Sumatera yang ditulis dalam aksara dan aksen Cina, yaitu kerajaan “MO-LO-YUE” pada tahun 644 dan 645 Masehi.

Catatan tersebut berawal dari perjalanan seorang Pendeta Budha Cina bernama I-Tsing. Dalam perjalanannya ke India ia melalui dan sempat bermukim di Kerajaan Sriwijaya (She-li-fo-she) untuk belajar bahasa Sansekerta selama 6 bulan sebelum melanjutkan perjalanannya ke Kedah dan India. Kurang lebih 20 tahun yakni tahun 685 Masehi, I-Tsing kembali pulang ke Cina. Dalam perjalan pulang itu dia kembali menyinggahi tanah Mo-Lo-Yue yang saat di mana Kerajaan ini dalam penaklukan dan menjadi satu dengan Kerajaan Sriwijaya (antara 445-685 Masehi).

“Perjalanan pelayaran dari Sriwijaya ke tanah Melayu hanya memakan waktu 15 hari dengan kapal layar sederhana waktu itu,” ujar I-Tsing. Beberapa sarjana menyatakan berlainan sementara sebagian besar bersependapat, Kerajaan Melayu terletak di Hulu Sungai Jambi (Sungai Batanghari). Penelusuran dari ekskavasi keperbukalaan banyak ditemukan reruntuhan candi, patung-patung dan barang-barang kepurbakalaan lainnya, yang cukup tua usianya. (Kemilau Melayu)

Kategori: KOLOM Tags: 
Topik populer pada artikel ini:

Berikan Komentar

Kirim Komentar

Berita Terkait

Bookmark dan Bagikan

Lingga Pos © 2018. Hak Cipta dilindungi undang-undang. Powered by Web Design Batam.