X

Khazanah Melayu : HANG TUAH Kesatria Melayu

Hang Tuah

Daik, (LP) – Pada masa lalu, dikenal seorang kesatria bernama Hang Tuah. Ketika masih anak-anak, ia beserta orang tuanya, Hang Mahnud dan Dang Merdu, menetap di Pulau Bintan. Pulau ini berada di perairan Riau, dengan rajanya bernama Sang Maniaka, putra dari Sang Sapurba, raja besar yang bermahligai di Bukit Siguntang….

Hang Mahmue berfirasat bahwa kelak anaknya akan menjadi seorang tokoh yang terkemuka. Saat berumur sepuluh tahun, Hang Tuah sudah pergi berlayar ke Laut Cina Selatan dengan disertai oleg empat orang sahabat karibnya, yaitu Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Dalam perjalanannya, mereka berkali-kali diganggu dan diserang oleg gerombolan lanun (bajak laut). Dengan segala keberaniannya, kelima sahabat itu mampu mengalahkan lanun-lanun yang terbilang ganas dan sadis dan berkuasa di tengah laut dengan merampok harta benda kapal-kapal yang lewat. Kabar keberanian mereka terdengar sampah ke telinga Bendahara Paduka Raja Bintan, dan sangat kagum terhadap keberanian mereka.

Suatu ketika, Hang Tuah dan keempat sahabatnya berhasil mengalahkan empat pengamuk yang berbua huru hara dan menyerang Datuk Bendahara. Kelima sahabat itu kemudian dijadikan anak angkat Datuk Bendahara. Kehebatan dan keberanian kelima sahabat itu juga disampaikan Datuk Bendahara kepada Baginda Raja Syah Alam, yang mengangkat mereka sebagai anak angkat Baginda juga.

Beberapa tahun kemudian, Baginda Raja berniat mencari daerah baru sebagai pusat kerajaan. Iabeserta punggawa kerajaan, termasuk Hang Tuah dan para sahabatnya, melancong ke sekitar Selat Melaka dan Selat Temasek (Singapura). Rombongan akhirnya singgah di Pulau Ledang. Di sana rombongan melhat seekor pelanduk (kancil) berwarna putih, yang sangat sulit untuk ditangkap. Menurut petuah orang tua-tua, jika menemui pelanduk putih di suatu hutan maka tempat itu sangat bagus dibuat negeri. Akhirnya di sana dibangun sebuah negeri yang diberi nama Melaka, sesuai nama pohon Melaka yang ditemukan di tempat itu.

Setelah beberapa lama memerintah, Baginda Raja yang masih perjaka itu bermaksud meminang putri cantik Datuk Bendahara Seri Benua dari Kerajbn Indrapura, bernama Tun Teja. Namun sayangnya, Tun Teja menolak pinangan itu. Tidak berputus asa, karena tidak berjodoh dengan putri dari Kerajaan Indrapura, Baginda Raja kemudian meminang Putri tunggal Seri Betara Majapahit, seorang raja yang sangat berkuasa. Putrinya bernama Raden Galuh Mas Ayu, menerima pinangan Baginda Raja dan menjadi Permaisuri Kerajaan Melaka.

Alkisah, sehari menjelang pernikahan, di istana Majapahit terjadi kegaduhan, yakni seorang perajurit Majapahit yang sudah berumur tua tapi teramat tangguh, bernama Taming Sari berbuat onar, mengamuk tanpa sebab musabab. Hang Tuah kemudian berusaha menghadang dan menghentikan amuk lelaki tua itu. Konon ia tidak mempan dengan senjata apapun. Hang Tuah bersiasat, yakni dengan cara menukarkan kerisnya dengan keris Taming Sari. Setelah keris bertukar, Hang Tuah kemudian berkali-kali menghunjamkan keris sakti ke tubuh perajurit handal Majapahit itu yang juga bernama Taming Sari. Lelaki perkasa itupun akhirnya rubuh bersimbah darah dikalahkan oleh Hang Tuah, dengan senjatanya sendiri. Hang Tuah kemudian diberi gelar kepahlawanan dengan menyandang nama Laksamana Hang Tuah dan keris Taming Sari dihadiahkan Seri Betara Majapahit kepada kesatria Melayu itu. (bersambung Kamis (29/3). (jk,kemilau melayu)

Categories: KOLOM

View Comments (1)