X

MESJID RAYA SULTAN PENYENGAT, KEBANGGAAN MASYARAKAT MELAYU

Penyengat, (LINGGA POS) – Panas menyengat saat menginjakkan kaki di Pulau Penyengat, Jumat (20/4). Butuh waktu sekitar 75 menit dari Batam mengarungi laut untuk menuju ke pulau yang hanya berluas 2 x 1 Km ini. Rinciannya, 60 menit untuk menyeberangi dari Batam ke Tanjungpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menggunakan kapal ferry cepat lalu over ke perahu motor (pompong) selama 15 menit dengan biaya Rp10 ribu per orang pp.

Meski berukuran mini, namun sempatkanlah Anda mengunjunginya jika Anda sudah berada di Batam, atau apalagi Tanjungpinang. Itu karena di pulau ini terdapat Masjid bersejarah, Masjid Raya Sultan Riau (Penyengat) yang menjadi kebanggaan orang Melayu. Masjid ini langsung menyita pandangan mata begitu kita sampai di pelabuhan pulau Penyengat. Untuk sampai ke Masjid, kita bisa berjalan kaki dari pelabuhan karena jaraknya hanya sekitar 1 Km, atau menyewa becak motor (ojek) atau bahkan sepeda yang juga bisa digunakan untuk mengelilingi pulau. Hanya saja udara cukup panas di sini, meskipun baru pukul 10.00 WIB.

“Masjid ini didirikan pada 1 Syawal 1249 H (1832 M) atas prakarsa Raja Abdurrahman, Yang Dipertuan Muda Riau VII. Dibangun dengan putih telur sebagai ganti semen, pasir dan tanah liat,” terang Abu Zainal, Muazin sekaligus Bilal Masjid. Meski sudah berusia hampir dua abad, namun bangunan yang didominasi cat warna kuning itu terasa empuk saat diinjak dan kontras dengan warna putih dinding Masjid. Plafonnya yangtinggi, membuat angin semilir leluasa masuk.

13 kubah dan 4 menara Masjid yang berukuran panjang 19,80 meter dengan lebar 18 meter dibangun di atas tanah seluas sekitar 55 x 33 meter dan dikerjakan bersama oleh seluruh lapisan masyarakat di Kerajaan Riau-Lingga ini, tidak hanya ‘gagah’ secara arsitektur tetapi juga kaya akan simbol. “Kubahnya berjumlah 13, termasuk kubah yang di atas beranda depan pintu masuk utama. Menara tinggi, ada 4 buah disetiap sudut ruang utama sembahyang. Total ada 17, itu sama dengan jumlah bilangan rakaat dalam 5 kali shalat fardhu dalam sehari,” beber Zainal. Menaranya berbentuk sangat runcing seperti pinsil mirip menara di Masjid Turki, Istambul, sementara atap Masjid bearoma India. Mungkin ini karena pengaruh pedagang-pedagang Muslim yang pada masa itu sudah melakukan perdagangan di semenanjung Riau-Melaka, Singapura.

Tak hanya difungsikan untuk kegiatan amal ibadah, Masjid yang temboknya mencapai tebal 70 Cm ini juga mengakomodir kegiatan-kegiatan sosial. Buktinya, di dalam komplek Masjid dari tangga hingga Mihrab, terdapat unit bangunan yang terpisah-pisah yang masing-masing dalam posisi simetris. Di halaman kiri dan kanan Masjid ada bangunan dinding beratap limasan bata. Masyarakat setempat menyebut bangunan kembar tersebut dengan nama Sotoh, yang berfungsi sebagai tempat permusyawaratan para ulama dan cendekiawan.

Al Quran Tulisan Tangan.
Di dalam Masjid, terdapat kitab-kitab kuno tentang Islam, bekas koleksi perpustakaan yang didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf al Ahmadi, Yang Dipertuan Muda Riau X. Ini menunjukkan jika Raja adalah orang terpelajar. Benda menarik lainnya yang terdapau dalam Masjid adalah mimbar indah dan Kitab Suci Al Quran tulisan tangao. Kitab suci itu ditulis warga Penyengat bernama Abdurrahman Stambul, yang sebelumnya sengaja dikirim ke Mesir untuk belajar agama Islam. Al Quran itu ditulis pada 1867.

Menurut Zainal banyak sekali para pengunjung datang untuk menyaksikan dari dekat Masjid Sultan Riau ini, baik dari dalam maupun dari luar negeri termasuk para pejabat dari ibukota negara. Uang kasnya sudah mencapai Rp502 juta, yang berasal tidak saja dari Indonesia, tetapi juga dari negara tetangga Malaysia, Singapura, Brunei dan lainnya. Karena itu uang yang terkumpul tentu saja berbagai mata uang seperti dolar, ringgit dan sebagainya.

Masjid yang mempunyai tinggi sekitar 3 meter dari permukaan jalan di Pulau Penyengat, yang namanya berasal dari saat rombongan Saudagar yang hendak ke Singapura mampir ke pulau ini dan disengat lebah (penyengat) itu.

Jadi, Anda tertarik mampir ? Tenang, sengatan lebahnya sudah tidak ada lagi. Kecuali sengatan matahari. Jadi agar tidak kepanasan dan perjalanan wisata sejarah Anda berjalan menyenangkan, Anda hanya perlu payung, topi, kacamata dan cream sunbloch, pasti perjalanan muhibah rohani dan jasmani di Pulau Penyengat berjalan dengan lebih aman dan mengasyikkan. (farouk arnaz,feriawan hidayat,bs.com)

Categories: KEPRI KOLOM