X

Khazanah Melayu : ARAB MELAYU, MUNCULNYA TULISAN, SISTEM dan ISTILAH JAWI

Dabo, (LINGGA POS) – Kesepakatan yang tiada terbantah bahwa aksara Arab Melayu (JAWI) berasal dari huruf/skrip Arab dengan beberapa penyesuaian dan tambahan huruf : c, g, ng, ny, dan p (huruf fa titik tiga di atas) kemudian Dewan Bahasa Bahasa dan Pustaka Malaysia melalui Pedoman Ejaan Jawi Yang Disempurnakan terbitan 1986, menambahkan huruf waw titik satu di atas untuk padanan huruf v. Kesemua huruf ini merupakan huruf khas Arab Melayu.

Untuk melengkapi dan menyempurnakan serta mengefektifkan penggunaan huruf dalam transliterasi dari huruf Rumi (Latin) kepada tulisan Arab Melayu, penulis menawarkan padanan huruf x dengan huruf kaf (ditambah dengan titik tiga di bawah), karena selama ini huruf x ditulis dalam Arab Melayu dengan menggunakan dua huruf, yaitu gabungan huruf kaf dengan huruf sin. Pengefektifan dari gabungan dua huruf menjadi satu huruf saja untuk huruf x, setara dengan asal muasal huruf c yang dalam tulisan/skrip Arab ditulis dengan menggabungkan dua huruf, yaitu huruf ta dan syin. Begitu juga huruf ng yang berasal dari gabungan huruf nun dan jim.

Tentang perkembangan sistem tulisan Arab Melayu (Jawi) di Nusantara, cukup banyak peneliti Barat yang telah melakukan kajian dan penyelidikan disebabkan oleh kepentingan tugas yang berkaitan dengan keperluan pemerintahan (kolonial), perniagaan dan kristenisasi maupun karena murni untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Misalnya, Shellabear menulis artikel tentang per-kembangan ejaan Arab Melayu (Jawi) pada 1901. Ia menyebut dan mengulas beberapa pengkaji Barat lainnya yang juga telah menyelidiki bahasa Melayu termasuk ejaan dan tulisannya antara lain : van Ronkel, van Elbinck, Robinson, Gerth van Wijk, Erdnly, van der Waal, Cohen Stuart, de Hollander, van der Tuuk, Pijnappel, Klinkert, dan Wilkinson. Shellabear telah menyuarakan rasa kagumnya terhadap hakikat adanya keseragaman dalam tulisan dan ejaan Arab Melayu yang terkandung dalam manuskrip-manuskrip sebelum kurun abad ke-17 Masehi yang ditulis di seluruh pelosok Kepulauan Melayu.

Dia memberi alasan keseragaman tersebut disebabkan karena kemahiran tulis menulis pada masa itu hanya dikuasai oleh beberapa orang juru tulis yang tentu sekali telah terlatih dalam hal kaidah penulisan sehingga dapat terjaga keseragamannya. Kenyataan ini diperkuat oleh fakta bahwa teks-teks pada masa itu kebanyakan terdiri dari dokumen-dokumen resmi agama dan kerajaan, yang tentu sekali hanya ditulis oleh kelompok terpelajar saja.

Lebih lanjut Shellabear mengatakan kekagumannya, bahwa orang Melayu menerima sistem tulisan dan bacaan Arab Melayu ini secara langsung dari orang Arab, dan orang Arab-lah yang mula-mula menggunakan sistem tulisan Arab untuk menulis bahasa Melayu yang seterusnya dikenal dengan nama Aksara/Tulisan Arab Melayu atau Jawi. – Pada 1812 atau sekitar 100 tahun sebelum kajian Shellabear, Marsden telah memperkatakan keberadaan aksara Arab Melayu dalam bukunya A Grammar of the Malayan Language. Sementara R.0. Winstedt pada 1913 juga mengulas tentang sistem ejaan Arab Melayu dalam bukunya Malay Grammar. Sedangkan dikalangan orang Melayu, Raja Ali Haji, diakui sebagai tokoh yang mula-mula sekali memperkatakan sistem ejaan Arab Melayu seperti yang tercatat dalam bukunya Bustan al- Katibin, yang kemudian diteruskan oleh Muhammmad Ibrahim (putra Abdullah Munsyi).

Dan, tokoh Melayu pertama yang benar-benar menganalisis sistem ejaan Arab Melayu dari segi prinsip dan segala permasalahannya adalah Zainal Abidin bin Ahmad (Za’ba) dengan karyanya Jawi Spelling dan buku Daftar Ejaan Melayu Jawi-Rumi. Tokoh lainnya adalah Raja Haji Muhammad Tahir bin al- Marhum Mursyid Riau, dalam bukunya Rencana Melayu. (ahmad darmawi,km) (bersambung …)

View Comments (1)

  • ssalam solidaritas dari kami.KAT dan HAM media Online di Batam menampilkan yang terbaik bagi pembaca di kepri dan kita bisa saling kordinasi melaui pemberitaan.www.katdanham.com