X

Khazanah Melayu : KHAZANAH BAHASA PRA-INDONESIA (2)

(LINGGA POS) – Jika surat-surat Raja Ali Haji itu dimunculkan dalam bentuk ejaan yang sudah disesuaikan dengan ejaan yang disempurnakan (EYD), artefak bahasa pra-Indonesia yang menggunakan ejaan aslinya bisa dijumpai pada antologi sastra pra-Indonesia yang disusun oleh Pramoedya Ananta Toer. Karya sastra tempo doeloe yang ditulis pada era kolonial itu memperlihatkan ciri yang jauh berbeda dengan bahasa Indonesia saat ini, setidaknya dari aspek sintaksisnya.

Ada perbedaan mencolok antara bahasa dalam surat-surat Raja Ali Haji dengan bahasa dalam sastra pra-Indonesia. Yang terakhir ini ditulis dalam ragam Melayu pasar, yang ‘spontan’, ‘egaliter’ dan ‘revolusioner’. Simaklah cerita ‘Pieter Elberveld’ yang ditulis Tio Ie Soei. Kisah yang diberi contoh ‘Satoe kedjadian jang betoel di Betawi’ ini diawali dengan teras sebagai berikut : ‘Seratoes taon lebi telah berlaloe sedari kota Betawi didirikan oleh Jan Pieterszoon Coen jang gaga-perkasa”. Paragraf pertama itu juga memberikan penjelasan etimologis tentang kegemaran para petinggi Orba melafalkan akhiran ‘kan’ dengan ‘ken’. Di sini menjadi jelas bahwa para petinggi yang berkuasa di era sebelum reformasi itu masih sulit mengubah pola linguistiknya sekalipun pembaruan formal sudah ditasbihkan untuk menggunakan sufiks ‘kan’ dan bukan ‘ken’ untuk berbahasa yang baik dan benar. Dan kalau dulu presien kedua RI Soeharto sulit mengucapkan ‘semakin’ yang terpeleset ke lafal ‘semangkin’, sastra tempo doeloe memperlihatkan sisi etimologisnya pada alinea ke lima tulisan Tio Ie Soei yang berikut, ‘Meski begitoe, kendati Betawi sementara ada didalem bahaja. Ini kota telah madjoe : semangkin tegoe dan djadi lebi bagoes’. Cerita tentang bahasa agaknya punya sisi politiknya. Kebiasaan mengucapkan akhiran ken dan semangkin alih-alih semakin, yang digunakan pengusa tunggal Orba itu justru berlangsung sepanjan usia rezim (32 tahun) yang kurang senang dengan kritik pedas. Itu pula sebabnya, Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia, tidak punya nyali alias keberanian untuk membina pengucapan ‘ken’ dan ‘semangkin’ itu je jalan yang lurus, agar menjadi contoh berbahasa yang baik dan benar. Pembinaan justru dilakukan oleh para pelawak seperti Tarsan dalam grup lawak Srimulat yang sering ditayangkan di stasiun nasional TVRI bersama rekan-rekannya Asmuni, Basuki, Kadir, Doyok dan lainnya, serta penulis cerita pendek dan novelis seperti Putu Wijaya. Namun, mereka membina dalam bentuk parodi. Tentu saja, pembinaan semacam itu hanya selaksa jauh panggang dari api, tak mengena sasaran. Zaman sudah berubah, demikian pula dengan bahasa. Dari artefak bahasa itulah, kita dapat melihat khazanah bahasa dari waktu ke waktu. (m.sunyoto,k) (selesai)