X

BOEDIONO BUKA TAMADUN MELAYU I DI KEPRI

Tanjungpinang. (LINGGA POS) – Wakil Presiden RI Boediono membuka secara resmi perhelatan akbar bertajuk Tamadun Melayu I tahun 2013, yang dipusatkan di halaman Gedung Daerah, Tanjungpinang, Kepri, Jumat (27/9). Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari mulai 27-29 September 2013. Boediono, yang sebelumnya sempat menunaikan ibadah shalat Jumat di Masjid Alhikmah, Tanjungpinang didampingi ibu Herawati Boediono dan tampak juga Mendagri Gamawan Fauzi dan Mendikbud Muhammad Nuh. Mengawali sambutannya dengan sebait pantun, mantan Gubernur Bank Indonesia ini mengatakan memberi apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya Tamadun Melayu yang ditaja Pemprov Kepri serta dukungan penuh dari pemerintah pusat. Sejarah menunjukkan, kata dia, bahwa budaya Melayu menjadi salah satu unsur dominan dari budaya Indonesia, ini ditandai misalnya dengan karya apik budayawan Melayu yang juga Pahlawan Nasional Raja Ali Haji, Gurindam 12. Lebih dari itu, dari sinilah pula lahirnya bahasa persatuan Bahasa Indonesia. “Tamadun Melayu adalah puncak prestasi yang dicapai suatu bangsa, mengingat wilayah Kepri memiliki sejarah tersendiri utamanya Kerajaan Riau Linga-Johor dan Pahang,” kata Boediono. Sementara Gubernur Kepri HM Sani mengatakan, “Pelaksanaan Tamadun Melayu pertama ini adalah berupaya untuk mempererat tali silaturahmi daerah rumpun Melayu, antara negara Indonesia dengan negara lainnya serta daerah Kepri dengan provinsi lainnya. Kami berharap dengan kegiatan ini akan dapat lebih memajukan budaya Melayu, merangkai persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI,” kata Sani, dan berharap dari pelaksanaan Tamadun Melayu ini dapat mewujudkan Provinsi Kepri sebagai Bunda Tanah Melayu yang sejahtera, maju dalam persamaan yang luhur dengan senantiasa menjunjung tinggi adat dan agama.

HANYA 4 NEGARA.  Tamadun Melayu I ini dihadiri oleh empat negara yang tergabung dalam Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI), dari 8 negara lainnya yang sebelumnya menyatakan hadir. Empat negara yang hadir itu adalah Malaysia, yang langsung dipimpin oleh Datok Sri Ali Rustam, yang tak lain adalah Presiden DMDI saat ini, dengan peserta 120 orang, berikutnya Thailand 20 peserta, Singapura 20 peserta, sementara Brunai Darussalam belum tampak hadir pada prosesi kegiatan awal acara. Ikut hadir meramaikan perhelatan akbar ini peserta dari 15 provinsi di Indonesia dengan peserta sekitar 600-an orang, termasuk dari kabupaten/kota se-Kepri minus Kabupaten Natuna. Diperkirakan setidaknya 1.000 peserta akan ambil bagian dalama Tamadun Melayu I ini.

WAGUB TAK HADIR, NATUNA ABSEN.   Empat negara lainnya yang batal hadir adalah Kamboja, Filipina, Madagaskar dan Afrika Selatan. Ketidakhadiran mereka konon karena masalah keuangan. Namun, dari tuan rumah sendiri, Wakil Gubernur Kepri tidak tampak hadir setidaknya pada hari pembukaan berlangsung, dimana para Menteri Kabinet Indonesia jilid II bahkan hadir mendampingi Wakil Presiden Boediono, berhubung Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono berhalangan hadir. Termasuk dari Kabupaten Natuna yang absen dalam Tamadun Melayu I tanpa alasan yang jelas, padahal menurut Ketua Panitia Pelaksana, Arifin Nasir pihaknya telah menghubungi setiap pimpinan daerah kabupaten/kota sejak Desember 2012.

PEMAKALAH DARI 3 BENUA.  Dari sekitar 9 kegiatan dalam Tamadun Melayu I ini disebutkan akan dilaksanakan pula Seminar Kebesaran Tamadun Alam Melayu yang menghadirkan para pakar sebagai pemakalah dari 3 benua (Asia, Australia dan Eropa), yang akan berlangsung pada 28-29 September 2013 di Hotel Aston, Tanjungpinang, yang dikoordinir oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Kepri. Para pemakalah dari Eropa (Jerman) adalah Berthold Damshauser, dari Australia Margaret Kartoni dan Karen Sri Kartoni serta pemakalah dari Asia yang diwakili oleh Viviene Wee (Singapura) dan dari Indonesia sendiri. Menurut Abdul Kadir Ibrahim yang biasa dipanggil Akib, selaku Kurator Seminar, kegiatan ini diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai utusan dengan membahas setidaknya delapan topik dengan berbagai tema, antara lain ‘Syiar Agama Islam dalam Alam Melayu Kepri’ dengan pemakalah Jajat Burhanuddin, ‘Kabar Bahasa dan Sastra Melayu di Jerman’ Berthold Damshauser, ‘Kebaharian dan Kemaritiman’ Susanto Zuhdi dan Mussadun Saman, ‘Antropologi dan Penyelamatan Kawasan Bersejarah Alam Melayu di Kepri’ Viviene Wee dan Heriyanti Untoro, ‘Seni Musik Alam Melayu Kepri’ Margaret Kartoni, ‘Sejarah Intelektual dalam Perkembangan Tradisi Tulis Alam Melayu Kepri’ dengan pembicara Jamal D. Rahman dan Bastian Zulyeno. (ran,af)