X

MANDI SAFAR, TRADISI MELAYU LINGGA

Sumber: radarkepri.com

Daik, LINGGA POS – Sebagai tradisi masyarakat Melayu Lingga pada setiap bulan Safar, utamanya pada hari Rabu terakhir bulan Safar (30/11) ribuan masyarakat melakukan ritual mandi Safar. Seperti juga tahun-tahun sebelumnya, kawasan wisata pantai Pasir Panjang Karang Bersulam di Desa Mepar, Daik-Lingga menjadi sentra berkumpulnya masyarakat secara bersama-sama melaksanakan mandi safar ini termasuk juga di pemandian Lubuk Papan. Dari usia anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua berkumpul dalam prosesi mandi safar yang pada intinya untuk mendatangkan berkah dan juga agar terhindar dari bala bencana dan kesialan hidup. Di percaya dengan mandi safar juga membersihkan diri lahir bathin dari hal-hal negatif yang ada pada diri seseorang yang akan dibawa bersama kotoran yang ada di badan. Tak kurang, Wakil Bupati Lingga M. Nizar didampingi Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Lingga Raja Ruslan serta sejumlah pimpinan SKPD ikut dalam prosesi mandi safar bersama masyarakat. “Sejatinya tradiri mandi safar ini harus kita lestarikan di Negeri Bunda Tanah Melayu ini dan menjadi salah satu kegiatan tahunan bersama seluruh masyarakat yang ada di pelosok Lingga,” kata Nizar.

4 KEUTAMAAN MANDI SAFAR.

Dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar, konon ulama ahli ma’rifat menyebut bahwa setiap tahun akan turun sebanyak 320 ribu bala yang semuanya turun pada hari Rabu terakhir bulan itu, yang disebut juga dengan Yaumi Nahsin Musta’mir atau hari yang sulit di setiap tahun.
Setidaknya ada 4 hal yang bisa kita lakukan untuk menghadapi hari Rabu terakhir di bulan Safar, yakni : pertama, shalat sunnah empat rakaat, kedua, disunnahkan membaca surat Yasin sebanyak 313 kaki dilanjutkan dengan berdoa lalu memperkuat keimanan dan yakin akan ketetapan Allah SWT, ketiga, menghindari dari hal-hal yang bertentangan dengan ketauhidan dan keempat senantiasa meningkatkan ketaqwaan dan semaksimal mungkin bertawakkal kepada Allah SWT. (syk)

Categories: LINGGA