X

Khazanah Melayu : PANTUN,KARYA SASTRA ASLI BANGSA MELAYU “Mencubit Tanpa Menimbulkan Rasa Sakit”

Dabo,LP (5/1 ) – Dalam khazanah Melayu, kita dapat menemukan beragam jenis karya sastra, tetapi mengapa pantun yang dijadikan sebagai identitas jati diri bangsa Melayu? Menurut kritikus sastra, Maman S Mahayana, ada tiga hal yang menjadi alasan mengapa pantun dijadikan identitas bangsa Melayu, yaitu pertama, ia merupakan karya asli bangsa Melayu, kedua, mencakup semua orang Melayu dan ketiga, pantun digunakan dalam berbagai tempat dan kegiatan. Karya sastra ini telah muncul sejak sebelum Hindu, Budha, dan Islam datang. Konon, sejak 1688, pantun telah menjadi objek penelitian.

Pantun merupakan bentuk pengungkapan rasa hati dan pemikiran yang khas bangsa Melayu dan mempunyai sifat multi-budaya, multi-bahasa, multi agama dan multi ras. Penelitian terhadap pantun biasanya memfokuskan diri pada tiga hal, yakni pertama asal kata pantun dan usaha membandingkannya dengan pola persajakan sejenis. Kedua, fungsi dua larik pertama yang disebut sampiran (pembayang) dan dua larik terakhir yang ditempatkan sebagai isi (makna), dan ketiga, mengkategorisasi jenis pantun dan kedudukannya dalam masyarakat. Penelitian-penelitian tersebut bermuara pada satu pembuktian dan penegasan bahwa pantun merupakan hasil kesusastraan Melayu yang khas, unik dan tentu saja menakjubkan. Pantun, tidak terikat pada batasan usia, jenis kelamin, strata sosial, dan hubungan darah. Ia merupakan hasil karya sastra bangsa Melayu yang hidup dan dan bernyawa baik dalam ranah para kalangan bangsawan maupun rakyat jelata dan dibandingkan dengan karya sastra lainnya, pantun merupakan satu- satunya karya sastra yang mampu menisbikan batas antar manusia dengan manusia lainnya, kecuali sebagai keharusan agar semua puak- puak Melayu dapat berpantun. Karena, pantun pada tatarannya yang lebih luas digunakan oleh semua lapisan masyarakat untuk mengungkapkan hasrat hati dan pikirannya. Maka pantun merupakan teks sejarah yang menggambarkan realitas sosial-kultural bangsa Melayu.

Pantun dipergunakan dalam berbagai tempat dan dalam berbagai macam kondisi sosial, dan ianya merupakan sebagai media bagi puak-puak Melayu untuk berkomunikasi, melakukan pengajaran, dan membentuk jati diri Melayu. Dalam kehidupan seharian masyarakat Melayu, pantun selalu diperdengarkan, baik dalam acara-acara sosial, semonial, adat istiadat, perkawinan dan sebagainya keberadaan pantun ibarat garam dalam makanan. Betapapun makanan diolah dengan canggih tetapi jika tidak ditambah dengan garam makanan tersebut akan terasa hambar rasanya. Pentingnya pantun dalam kehidupan keseharian masyarakat Melayu dapat disimak dalam ungkapan-ungkapan seperti berikut : Jikalau berat orang bertenun /bukalah tingkap lebar-lebar / jikalau lenyap tukang pantun / sunyi senyap bandar yang besar. Bila siang orang berkebun/hari gelap naik ke rumah / bila hilang tukang pantun / habislah lesap petuah amanah. Kalau pedada tidak berdaun / tandanya ulat memakan akar / kalau tak ada tukang pantun / duduk musyawarah terasa hambar.

Mengapa ketika tidak diperdengarkan pantun bandar yang besar menjadi sunyi senyap, tidak ada amanah, dan musyawarah menjadi hambar? Karena di dalam pantun terdapat tunjuk ajar. Selain itu, dengan menggunakan pantun orang-orang Melayu dapat berkomunikasi tanpa menyinggung lawan bicaranya. Kenyataannya memang, untuk menyatakan rasa kasih sayang, benci atau tidak suka itu tidaklah mudah apalagi jika harus disampaikan secara langsung. Tetapi dengan pantun, mengucapkan, mengungkapkan rasa dan menyampaikan sindiran akan lebih mudah karena pantun dapat “mencubit tanpa menimbulkan rasa sakit”.

Berdasarkan ketiga hal tersebut di atas, benarlah bahwa pantun itu merupakan genre yang asli dan unik, dan sumber khazanah dalam kehidupan masyarakat Nusantara. (jk,kemilau melayu)

Categories: ENTERTAIN