Khazanah Melayu : KEHALUSAN BAHASA MELAYU CERMIN KEIMANAN

Dabo, (LINGGA POS) – Manusia menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Setiap bangsa dan keturunan mempunyai bahasa masing-masing. Justru, bahasa menjadi lambang kepada sesuatu bangsa. Bahasa Melayu dianggap unik dan halus. Sikap sopan santun dan adab berbahasa dipentingkan dalam bahasa Melayu yang menjadi lambang kepada bangsa Melayu.

Pengaruh seni bahasa Melayu banyak diresapi pengaruh Islam yang mementingkan penggunaan bahasa yang baik. Sesuai dengan nilai Islam, bahasa Melayu dijalin dengan perkataan Arab yang terkandung makna tauhid, ketaqwaan, hukum dan ketulusan hati. Firman Allah Swt “Allah tidak suka kepada perkataan buruk yang dikatakan terang-terang.” Selanjutnya dalam firmanNYA lagi “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah serta berbaik-baik dan mengaku Muslim.” Kehalusan dan ketelitian bahasa Melayu terserlah dengan terbentuknya beberapa kategori bahasa seperti bahasa istana, basahan, dalam dan pasar. Setiap bentuk bahasa itu diucapkan di tempat atau masa tertentu yang menjelaskan betapa adab pertuturan amat dipentingkan. – Dahulu kala, raja atau mereka yang berada di istana akan menggunakan bahasa istana. Rakyat biasa (awam), menggunakan bahasa basahan dalam kehidupan sehari-hari. Manakala para alim-ulama pula lebih banyak menyelitkan perkataan Arab yang menyeru kepada keimanan, ketaqwaan, dosa, pahala dan hukum agama. Jelasnya, dalam bahasa tidak ada bahasa najis, mencarut, kebodohan, sumpah serapah, dan kasar. Berkata-kata biarpun mudah, kesannya kepada kehidupan manusia amat ketara. Kata-kata yang diucapkan dicatatkan sehingga ke hari kiamat. Sabda Rasululla Saw bermaksud “Sesungguhnya seseorang itu akan bercakap-cakap dengan kata-kata yang diredhai Allah dan dia tidak menyangka bahwa kata-katanya itu akan menyampaikannya ke suatu tingkat tertentu, maka dicatatkan oleh Allah kata-kata itu mendapat keredhaanNYA hingga ke hari kiamat. “Dan seorang lain akan bercakap-cakap dengan kata-kata yang dimurkai Allah, dan dia tidak akan menyangka bahwa kata-kata itu akan menyampaikannya ke satu tingkat tertentu, maka dicatatkan oleh Allah dengan kata-kata itu kemurkaanNYA ke atas orang itu hingga ke hari kiamat.” (Hadist riwayat Ibnu Majah dan Tarmizi).

Masyarakat Melayu Mudah Tersentuh.

Bahasa MelayuSesungguhnya tutur kata baik diumpamakan mutiara yang disukai oleh orang ramai. Kata-kata yang baik meletakkan penutur sebagai orang disenang, disanjung, dicontohi dan diterima kata-kata itu untuk kebaikan.

Manakala perkataan tidak baik dikeluarkan dari mulut tidak ubahnya nilainya seperti najis. Tentu orang waras tidak akan menyukai najis. Najis dikaitkan dengan segala tidak baik dan hina. Jadi, begitulah pandangan kepada mereka yang menuturkan sesuatu perkataan tidak baik. Justru, kita dapat membuat pilihan sendiri sama ada ingin mengeluarkan kata-kata bak mutiara atau sebusuk najis. Begitu juga, pendengar dapat menilai sendiri mana penutur yang baik dan sebaliknya.

Masyarakat Melayu mudah tersentuh perasaan apabila isu bahasa kasar dan mencarut dibangkitkan. Belum ada mana-mana pakar bahasa, sastrawan, pemimpin dan ulama yang membenarkan kata-kata kasar dan mencarut digunakan pada bila-bila masa sekalipun. Bagaimanapun, ahli politik tanpa mengira statusnya (pakar bahasa, sastrawan dan ulama) mengatakan kata-kata kasar dan mencarut dibenarkan. Dengan kata lain, orang itu bercakap di atas dasar kepentingan politik murahan dengan menggadaikan marwah agama, bangsa dan bahasa. Bukan karena statusnya. (kemilau melayu)

Kategori: KOLOM Tags: , , ,
Topik populer pada artikel ini: arti terserlah, arti dari kata terserlah, arti terselah, teserlah artinya, arti kata terserlah