MARHABAN YA RAMADHAN

Dabo, (LINGGA POS) – Muhammadiyah telah menetapkan puasa Ramadhan tahun ini jatuh pada 20 Juli 2012 atau hari Jumat ,sementara pihak pemerintah melalui Kementerian Agama baru akan melakukan sidang isbat awal Ramadhan pada 19 Juli 2012 atau hari Kamis besok. Namun, kemungkinan besar awal Ramadhan versi pemerintah jatuh pada tanggal 21 Juli 2012 atau hari Sabtu.

Namun, satu hal yang cukup unik terjadi di kota Dabo Singkep, Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga. Benar, Dabo, yang telah menjadi sentra semua kegiatan dan aktivitas di Lingga, yang diterima atau tidak sejak dulu mengalahkan ibukota kabupatennya yang berada di Daik Lingga. Apalagi memang sarana dan prasarananya telah cukup tersedia di kota, yang dulunya disebut Pulau Timah.

Bukan sebuah dikotomi pula, jika dapat disimpulkan masyarakat Dabo dan Raya (Ibukota Kecamatan Singkep dan Kecamatan Singkep Barat) banyak bergerak di bidang swasta, dan masyarakat Lingga banyak berprofesi sebagai PNS atau umumnya guru.

Ya, uniknya, sejak sekitar dua minggu lalu semarak menyambut bulan suci puasa Ramadhan telah nampak meriah di kota ini. Disepanjang Jalan Pelabuhan, Dabo Singkep misalnya sudah banyak mangkal para penjual petasan atau mercon atau berbagai jenis kembang api. Tentu saja suasananya menjadi berbeda. Bila malam hari sepanjang jalan yang semula sepi dan gelap ini menjadi ramai dan meriah serta terang benderang dengan dinyalakannya lampu-lampu neon dari para pedagang dadakan tersebut.

Berbagai jenis petasan ditawarkan dengan harga ‘bersaing’. Etalase yang terdiri dari meja sederhana dipenuhi dengan berbagai jenis petasan dan perangkat lainnya. Dari harga yang Rp5.000 untuk satu bungkus petasan cabe rawit yang disukai anak-anak, sampai yang berukuran besar dengan harga hingga Rp200-Rp250 ribu dengan berbagai model menarik minat pembeli. Suasana semakin ramai karena para pedagang pakaian dan atribut Muslim juga ikut menggelar dagangan mereka. Sejauh ini, dari pantauan LINGGA POS, para pedagang petasan tersebut ‘masih’ tampak aman-aman saja alias belum ada tindakan dari pihak kepolisian. “Biasanya baru pada pertengahan puasa mereka baru merazia kami,” kata salah seorang pedagang. “Sebenarnya petasan yang kita jual ini tidak berbahaya, sejenis kembang api saja. Jadi amanlah untuk anak-anak. Ya, kalau tak ada petasan, rasanya tidak bulan puasa. Dengan adanya petasan ini suasananya menjadi meriah,” kata pedagang lainnya.

Satu hal yang cukup menarik, justru untuk jenis meriam bambu yang menggunakan bahan karbit dengan air dan dapat menimbulkan suara yang cukup keras, banyak dimainkan anak-anak WNI keturunan Tionghoa. Masing-masing berlomba menembakkan meriam bambunya agar menimbulkan suara yang lebih keras dari kawan-kawannya di seberang sana.

Rasanya, tradisi yang telah berlangsung sejak dahulu sulit untuk ditinggalkan pada saat bulan suci puasa Ramadhan hingga saat memasuki hari puncaknya seperti tujuh likur. Suasana semakin semarak dan meriah saat masing-masing RT dan RW membuat pintu gerbang dan memasang lampu-lampu yang terbuat dari kaleng dan botol minuman bekas menghiasinya dengan berbagai ormamen dan kaligrafi Asma Allah yang cukup menarik dan indah membuat nuansa menjelang Hari Raya Idhul Fitri menjadi syahdu.

Tak lupa, keluarga besar LINGGA POS mengucapkan Selamat Menyambut bulan Suci Ramadhan 1433 H. Sekapur sirih berulam pinang, siap disaji sebagah hidangan, Bulan suci Ramadhan sudah datang, Salah dan silap mohon dimaafkan. (jk)

Kategori: KOLOM, LINGGA Tags: , , ,
Topik populer pada artikel ini:

Berikan Komentar

Kirim Komentar

Berita Terkait

Bookmark dan Bagikan

Lingga Pos © 2018. Hak Cipta dilindungi undang-undang. Powered by Web Design Batam.