Siapa Cabup-Wabup Lingga Pilihan Anda?

Dengan telah keluarnya nomor urut dan penetapan calon pasangan Cabup-Wabup Lingga 2010-2015 oleh KPU Lingga, Sabtu (20/3) maka ketiga pasang kontestan sudah mulai menggodok strategi mencari suara pendulang masing-masing tentunya melalui Tim Sukses (TIMSES) yang telah dibentuk.

LinggaPos Dabo Singkep meskipun kota kecamatan justru menjadi pendulang suara yang signifikan dan menjadi tolak ukur sangat menentukan bagi ketiga calon dibanding tiga kecamatan lainnya seperti Senayang, Lingga Utara dan Lingga yang nota bene merupakan Ibu Kota Kabupaten dan juga Singkep Barat yang cukup potensial. Dari pantauan Lingga Pos, sudah sejak sebulan lalu di kota Dabo dibuka kantor TIMSES seperti TIMSES Daria-Abu di Jl. Perusahaan, TIMSES Usman-Hanafi di Jl. Dabo Lama dan TIMSES Saptono-Rudi di Jl. Pramuka atau di kantor Partai Demokrat DPC Lingga dimana Saptono sendiri adalah fungsionaris Partai sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Kepri. Yang paling super sibuk tentunya pasangan incumbent Daria-Abu. Daria Bupati Lingga, Abu Hasyim Ka. Capil Lingga sudah duluan bergerilya bahkan diduga mencuri start kampanye dengan memasang spanduk dan baliho mendukung keduanya untuk Lingga 1 diberbagai sudut strategis kota Dabo. Nampak baliho Daria bersama isteri di pasang lumayan besar menggambarkan keberhasilannya sebagai Bupati saat ini.

Banyak kalangan menyayangkan sikap arogan dan otoriter Daria. Ini jelas terbaca dengan digusurnya orang kepercayaannya sendiri selaku Plt. Sekda Lingga dan Ka. Bappeda Lingga saat ini menjadi calon kuat yang dianggap dapat mengancam kedudukan Daria menuju Lingga 1. Banyak kalangan menilai perilaku Daria ini malah menurunkan kredibilitasnya sebagai Cabup Lingga periode kedua (2010-2015) yang sengaja menyingkirkan lawan-lawan politik dan tidak itu saja; sumber yang layak dipercaya kepada Lingga Pos mengatakan korban lain sudah banyak yang dipindahtugaskan hanya karena dilihat ada berinteraksi dengan Usman. Belum lagi intrik dan juga kasus korupsi yang diduga dilakukan Daria seperti diberitakan diberbagai masa media lokal maupun nasional seperti isue illegal loging Desa Linau tahun 2004, swakelola Diknas Lingga 2007 dan yang lainnya. Berita – berita itu tak satupun ditanggapi Daria misalnya dengan memberi hak jawab. Mantan Ketua DPRD Lingga 2004 Alias Welo dan beberapa anggotanya sudah melaporkan dan menyerahkan sendiri berkas dugaan korupsi kepada Ketua KPK saat dijabat Antasari Azhar. Abu Hasyim sebagai Wabup mendampingi Daria saat ini menjabat Ka.Capil Lingga. Putra Lingga kelahiran desa Kote Kecamatan Singkep yang juga pernah menjabat Camat Singkep juga diduga mencuri start jauh sebelum tahapan pilkada dimulai. Selaku Ka.Capil dia sebenarnya memang punya akses untuk turun langsung ke desa dan pulau di Kabupaten Lingga mensukseskan program nasional memberikan KTP dan Akter Lahir gratis kepada penduduk. Hanya saja menurut salah satu koran diduga Abu kedapatan ada membagi formulir dukungan ke RT dan RW agar dia nanti yang dipilih sebagai Wabup mendampingi Daria.

Kontestan nomor urut 3 Saptono – Rudi sepertinya menurut para pengamat termasuk pasangan dadakan dan terkesan dipaksakan. Semula Saptono diusung untuk mengusi kursi ditingkat provinsi tetapi berubah posisi menjadi Cabup Lingga. Langkahnya ini mungkin sebagai kejutan atau shock therapy bagi pesaing yang juga kawan seiring Daria saat menuju singgasana kekuasan di negeri bunda tanah Melayu jilid 1. Masalah krusial nyatanya Saptono sama sekali tidak bisa menunjukkaan kinerja yang diharapkan rakyat Lingga. Selama kiprahnya sebagai orang nomor 2 di Lingga adalah 0 persen. Mualaf yang sudah berpredikat Haji dan sampai saat ini masih menduda banyak menghabiskan waktunya di Batam selaku ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Kepri. Dia hanya hadir di Lingga hanya kalau ada acara seremonial saja. Padahal sebagai pengusaha yang sukses di Batam masyarakat sangat mengharapkan agar dia mampu menarik investor untuk berinvestasi dan menanamkan modal di Kabupaten Lingga di era globalisasi yang cukup menjanjikan. Sayang sampai menjelang habis masa jabatannya harapan masyarakat itu hanya impian kosong belaka. Akan halnya Rudi sebagai pendamping tidak juga lebih baik. Rudi justru maju menjadi Wabup tida didukung partainya sendiri (Partai PAN). Sebaliknya melalui PKB dan tentu saja Demokrat. Dia terpilih kembali menjadi anggota DPRD Lingga untuk kedua kalinya. Sebagai ketua DPC PAN Lingga sekaligus anggota DPRD belum nampak secara nyata kinerja yang dapat kita apresiasi, sebagai catatan untuk periode 2004-2009 hanya menghasilkan Perda dan Ranperda sebanyak sekitar 40 buah bandingkan Kab. Natuna sekitar 60 Perda.

Sebaliknya pasangan Cabup-Wabup Lingga nomor urut 1 Usman Taufik – Hanafi Ekra dari catatan Lingga Pos dan berdasarkan pantauan di lapangan secara acak, dianggap pasangan yang belum “bermasalah” alias bersih dari isu tak sedap dan diharapkan merupakan pemimpin yang dapat mensejahterakan rakyat Lingga seutuhnya tanpa memandang suku agama ras atau golongan manapun di Kabupaten yang dikenal heterogen itu. Didampingi Hanafi Ekra Putra kelahiran Dabo Singkep, legislator dari PKS yang sudah dua periode terpilih sebagai anggota DPRD Prov. Kepri nampaknya punya kans yang cukup besar memenangkan kursi 1 dan 2 Lingga. Kita berharap masyarakat Lingga dapat menilai dengan hati nurani yang jernih dalam menentukan pemimpin pilihannya 5 tahun ke depan. Saat kita mencari PEMIMPIN bukan PENGUASA. Pemimpin yang mengerti dan senantiasa mengayomi rakyat untuk bersama-sama menuju masa depan yang lebih baik seperti yang dicita-citakan dalam mukadimah pembentukan Kabupaten Lingga 7 tahun yang lalu. Rakyat yang sejahtera, adil dan makmur.

Kategori: LINGGA
Topik populer pada artikel ini: