Syiar Islam : MELURUSKAN ARAH KIBLAT

 Dabo, (LINGGA POS) – Salat adalah pertemuan seorang hamba dengan tuannya, baik dilakukan secara sendiri-sendiri atau secara massal. Salat adalah komunikasi langsung antara seorang muslim dengan Allah, Tuhannya. Oleh karena itu salat bukan saja merupakan gerak lahiriah, akan tetapi lebih dari itu merupakan dialog rohani antara pelaku salat dengan Allah Yang Maha Esa. Kalau hal itu tidak bisa dilakukan, maka efek dari perbuatan salat itu tidak akan memberi pengaruh dalam kehidupan sehari-hari kepada para pelaku salat. Salat yang baik, adalah salat yang dilakukan sesuai dengan cara yang dilakukan Rasulullah SAW, memenuhi segala syarat, rukun, dan sunnah-sunnahnya. – Diantara syarat sahnya salat ialah bahwa salat itu harus menghadap Masjidil Haram di Makkah. Hal ini berdasar firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 144 : “Dan palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, dimanapun kamu berada maka hadapkanlah wajahmu ke arah sana.” Untuk itu setiap orang salat harus selalu menghadap Masjidil Haram, menghadap ke arah lain, maka salatnya tidak sah.

Sedangkan untuk kita masyarakat Indonesia yang jauh dari Kota Makkah, sangatlah susah mengarahkan salat kita itu persis menghadap Masjidil Haram, karena sangat sulit bagi kita meluruskan secara tepat salat kita ke arah sana. Ada dua cara meluruskan arah salat kita menuju Kabah, yaitu dengan cara mengukur melalui rumus segitiga bola dengan menggunakan rumus trigonometri yang susah bagi orang awam, dan cara yang kedua, ini yang- mudah, dengan cara kita meluruskan arah kiblat ketika matahari persis tepat berada di atas Masjidil Haram, dan itu setiap tahunnya terjadi dua kali.

Matahari, sebagaimana secara “nisbi” selalu kita lihat terbit dari timur dan terbenam di barat, selalu berjalan selama setahun dari selatan ke utara dan dari utara ke selatan. Batas pencapaian perjalanan ke utara sampai pada 23,5 LU, yaitu terjadi tiap tanggal 21 Maret dan ke selatan sampai pada 23,5 LS, yaitu terjadi pada tiap tanggal 23 September, sedang pada tiap tanggal 21 Juni dan 22 Desember, matahari akan berada tepau di atas khatulistiwa.

Gerakan bumi yang terpenting ada dua macam. Pertama, perputaran bumi sekeliling porosnya menurut arah barat – timur, yang berlaku dalam masa sehari semalam (rotasi), dan menyebabkan kita, penghuni bumi melihat semua benda langit bergerak dari timur ke barat. Satu gerakan penuh lamanya 1 hari atau 24 jam. Kedua, peredaran bumi sekeliling matahari, yang juga berlaku menurut arah barat-timur dalam masa 1 tahun, dan dinamakan gerakan tahunan (revolusi). (nur mujib,bp) (bersambung) ..

Kategori: KOLOM, MANCANEGARA, SYIAR ISLAM Tags: ,
Topik populer pada artikel ini:

Berikan Komentar

Kirim Komentar

Berita Terkait

Bookmark dan Bagikan

Lingga Pos © 2018. Hak Cipta dilindungi undang-undang. Powered by Web Design Batam.